Bahasa
merupakan bagian dari komunikasi yang terpenting. Tanpa bahasa kita tidak mungkin bisa bertukar
informasi. Menurut Barker (1984), bahasa
memiliki tiga fungsi: penamaan, interaksi, dan transmisi informasi. Melalui bahasa, beragam macam informasi dapat
disampaikan kepada orang lain. Terdapat
empat keterampilan berbahasa, yaitu: membaca (reading), menulis (writing),
berbicara (speaking) dan menyimak (listening). Keempat keterampilan itu memiliki kepekatan
kognitif yang tidak sama, seperti perbandingan antara kemampuan membaca dan
kemampuan menulis. Kemampuan membaca dan
menulis (literasi) lebih menyita konsentrasi kognitif dan intelekif yang
berfungsi sebagai latihan untuk meningkatkan kekritisan serta daya nalar, bila
dibandingkan dengan keterampilan berbicara dan menyimak.
Transformasi Ilmu Melalui Tulisan
Sistem budaya praliterasi (lisan) dan pendidikan yang
kurang menanamkan kemampuan berpikir kritis/menggunakan daya nalar inilah
merupakan satu dari sekian hal penghambat kemajuan pengetahuan dan pendidikan
pada umumnya. Bila dihitung setiap
tahun, perguruan-perguruan tinggi baik negeri maupun swasta telah mencetak
berpuluh-puluh juta sarjana dan pasca sarjana. Sayangnya, mayoritas intelektual tersebut kurang suka menulis. Sebagai bahan komparasi saja, Amerika Serikat
menerbitkan 100.000 judul, Australia 7.500, Inggris 61.00, Jepang 44.000, dan
Belanda 13.000 judul buku per tahun. Sedangkan Indonesia hanya menerbitkan2.000 judul per tahun (Alwasilah, Media Indonesia, 20-06-1992). Jelaslah bahwa masyarakat ilmuwan kita masih jauh tertinggal dari
masyarakat ilmuwan negara maju.
Pembuktikan ini bisa saja dijadikan alasan tidak
berkembangnya daya nalar masyarakat, karena banyak ilmuwan memang suka membaca
tetapi belum banyak yang suka menulis. Disinilah peran Perguruan Tinggi agar membekali para alumninya dengan
keterampilan menulis. Sehingga
transformasi ilmu pun berkembang dikalangan masyarakat luas.
Praliterasi Vs Posliterasi
Masyarakat Indonesia
menjadi semakin tidak purposif lewat penggunaan teknologi-teknologi canggih
tersebut. Misalnya, handphone digunakan
untuk media ngobrol bareng
artis-artis atau internet yang digunakan beberapa mahasiswa sebatas ber-chatting ria. Akhirnya kita diperbudak oleh Iptek, bukan
malah berusaha untuk mengendalikan dan memanfaatkan teknologi tersebut. Masyarakat Indoensai adalah masyarakat yang
mayoritas penduduknya berbudaya praliterasi dimana budaya lisan lebih
mendominasi. Dengan mental praliterasi
yang cenderung reaktif dan spontan, tiba-tiba diinvasi oleh budaya posliterasi
seperti tekhnologi internet, handphone, televisi dan sebagainya. Akulturasi praliterasi dan posliterasi dalam
budaya ini.
Terdapat sebuah film barat dimana sepasang suami istri
tengah bersiap tidur. Mereka membaca
dulu beberapa halaman buku, diterangi lampu baca di samping ranjangnya. Terkadang mereka menggunakan kaca mata
baca. Setelah cukup mengantuk, mereka
menaruh buku di meja kecil di sampingnya dan mematikan lampu baca. (Adlin, Pikiran Rakyat, 10-02-2007). Book (1980) menamakannya budaya literasi
(baca-tulis) masyarakat barat. Sehingga
ada yang mengatakan bahwa budaya literasi barat dan praliterasi itu telah menciptakan kesenjangan antara negara maju dan negara
berkembang.
Budaya Literasi Masyarakat Indonesia
Kebiasaan baca-tulis sebenarnya persoalan budaya. Dalam aplikasi literasi, seyogyanya harus
ditumbuhkan kegemaran membaca pada masyarakat. Bila membaca telah menjadi kebutuhan batin, masyarakat akan selalu
bernafsu untuk membaca media apa saja. Lalu dengan sendirinya mereka akan tergerak dan terangsang untuk
menuangkan informasi/ilmunya ke dalam tulisan.
Dalam Writing,
Research, Theory and Application, Kraschen mengadakan obsevasi mengenai korelasi antara membaca dan
menulis. Dari penelitian tersebut,
terbukti bahwa penulis yang baik adalah mereka yang gemar membaca dimasa
kecilnya, suka membaca koran, dan memiliki banyak buku di rumahnya. Terbukti pula bahwa penulis yang baik adalah mereka yang menulis di luar kegiatan
akademik, sering menulis diari/jurnal, mengikuti kursus menulis dan memiliki
sikap positif terhadap menulis. Maka
dari itu, keterampilan menulis sebenarnya dapat dibina dan dikembangkan.
Ketika menulis, penulis diharuskan menguasai kode etik
linguistic. Menulis merupakan permainan
logika, karena penulis dipaksa berpikir lebih kritis dibanding saat
membaca. Maka, menulis merupakan alat
untuk mempertajam serta memperhalus pikiran. Semakin dalam dan kritis suatu pemikiran, akan semakin berkualitaslah
hasil tulisan tersebut. Ini semua
terlahir atas proses internaslisasi kedalaman ilmu dan kekritisan penulis. Namun kompetensi menulis tentunya hanya
tumbuh dari kegemaran membaca. Sedangkan
latihan menulis secara simultan, akan menumbuhkan performansi tulisan.
Sebelum menulis, penulis harus yakin dengan poin-poin
pikiran yang akan ditulis. Harus ada
interaksi antara bahasa dan poi-poin pemikiran. Poin itu tentunya tidak datang
begitu saja. Penulis harus mencari
informasi sebanyak mungkin dengan membaca. Tanpa hobi membaca, seseorang tidak akan mungkin bisa menjadi penulis.
Hal itu dikarenakan membaca melibatkan memori yang menyimpan informasi dan
membentuk imej mengenai objek bacaan tersebut.
Kembali lagi kepada budaya praliterasi bangsa Indonesia, media yang lebih media yang lebih berkembang pada
masyarakat Indonesia adalah sastra dan tradisi lisan, bukanlah sastra tulis. Contoh kecilnya, pada budaya bahasa sunda
terdapat sisindiran dan wayang. Sedangkan budaya Bahasa Inggris merupakan budaya baca-tulis.
Ditinjau dari paradigma kultur ini, memang tidaklah mudah
untuk menanamkan budaya gemar membaca pada masyarakat praliterasi. Menstimulus masyarakat untuk hobi membaca
saja susah, apalagi menumbuhkan hobi menulis. Contoh konkritnya, jarang rumah-rumah di Indonesaia yang
mempertimbangkan untuk membuat perpusatakan pribadi atau rak-rak buku di
sudut-sudut rumahnya. Mereka lebih
cenderung memikirkan untuk menata ruang televisi yang besar dan nyaman bagi
keluarga. Dampaknya, minat baca pun
menjadi minim sekali.
Penutup
Merupakan hal yang cukup sulit bila kita memaksakan/mencekokan budaya literasi kepada
masyarakat, karena bagaimanapun praliterasi telah menjadi akar budaya
masyarakat Indonesia.
Namun, praliterasi itupun mempunyai
keunggulan tersendiri yaitu sarana untuk menyatakan pikiran, perasaan, dan
maksud seseorang secara verbal. Begitupun
literasi yang dapat meningkatkan tingkat logika dan paradigma berpikir
masyarakat di balik wacana-wacana teks ilmiah.
Mengenali potensi suatu masyarakat, lalu berusaha
mengembangkan potensi tersebut bersama-sama sehingga budaya literasi dan
praliterasi menjadi seimbang merupakan jalan keluar dari dilematis budaya
ini. Sedangkan budaya posliterasi harus
disikapi dengan daya nalar yang tinggi untuk memfilter kebutuhan informasi yang
bermanfaat bagi kemajuan bangsa indonesia. (Diterbitkan di Majalah Mizan).
.