Marhaban Ya Ramadhan....Marhaban Ya Ramadhan..

Ceritanya_pake_kerudungSaya tertarik pada kajian tasawuf menjelang bulan Ramadhan yang beberapa hari lagi akan dilakukan oleh seluruh umat Islam di seluruh dunia. Tasawuf sebagai khazanah spiritualisme Islam, merupakan latihan spiritul sebagai upaya-upaya untuk benar-benar merasa dekat dengan Tuhan. Tuhan bersifat immateri, maka keberhasilan untuk menjadi semakin mendekat kepada-Nya akan terwujud bila tidak lagi terpenjara oleh kehidupan materi untuk memasuki alam rohani.

Saya menyadari sangat sulit untuk menacapai makhom sufistik semacam tasawuf.  Namun melihat kehidupan saat ini yang penuh dengan kehidupan materialistik dan hedonisme, godaan-godaan itu semakin santer saya rasakan. Apalagi diri saya yang masih dangkal dalam pengkajian ilmu agama.     

Pemujaan terhadap tuhan-tuhan baru yang berwujud materi, kekuasaan dan sebagainya telah membentuk paradigma baru bahwa tujuan hidup manusia itu hanyalah pemenuhan keduniawiaan belaka. Walau saya tidak memunafikan fakta bahwa saya pun membutuhkan uang untuk tetap survive hidup di dunia, tetapi itu tentunya bukan merupakan tujuan akhir nanti.  

Beberapa hari lagi, bulan penuh barokah ini akan datang kembali. Saya begitu bersyukur sebab masih diberi kesempatan untuk menikmati magfirah Allah di Ramadhan nanti. Rasa kangen pada bulan Ramadhan ini, seakan terobati melalui penantian selama 11 bulan. Ramadhan, memang bulan yang penuh dengan rahmat dan ampunan.

Dengan meluasnya penjajahan kapitalisme, hedonisme, materialisme dan egosentris yang saya rasakan semakin gencar, bulan ramadhan adalah panasea dari oase kekeringan batin saya ini. Sebab tujuan puasa bagi saya yaitu sebagai upaya mencegah hawa nafsu, tentunya bukan hanya nafsu menahan lapar dan dahaga saja. Nafsu menguasai, nafus amarah, nafsu menunjukan kemegahan diri sendiri dan beragam nafs pada diri manusia yang terdapat pada id-nya.   

Ya Allah, betapa bahagianya saya karena diberi kesempatan untuk bertemu dengan Bulan Suci ini lagi. Alhamdulilah..

Marhaban Ya Ramadhan..Marhaban Ya Ramadhan.. - Lucy -

                            

Ayam Penyet ala Bandung

Dscn4247_1 Saya punya sebuah menu makanan andalan yang murah, nikmat, sehat dan pastinya mengenyangkan. Namanya ‘Ayam Penyet’. Kemarin saya kunjungi lokasi penjualan ayam penyet ini, setelah hampir setengah tahun saya melupakan kelezatan rasanya. Keunikan dari ayam goreng ini adalah pencampurannya dengan sambal tomat yang disimpan di dalam cobek. Pada awalnya saya heran dengan kombinasi rasa dari ayam penyet ini, manis, pedas dan asam. Tapi overall, rasa itu menyatu dengan keseimbangan gurihnya. Satu lagi yang unik, sambal dadakan ayam penyet yang dicampur dengan terasi, bawang merah, tomat, cabe merah itu semuanya direbus dulu di atas wajan. Baru setelah itu, dicampur dengan bumbu dapur, ditambah serawung (daun kemangi) lalu direndos. Setelah itu, ayam yang sudah digoreng ditumbuk pula di atas coet bersambal. Jangan tanya soal rasanya, karena memang manyuuuuss...

Mengkritisi Pencekalan Keseteraan HAM pada Kualitas Proses Pendidikan Tingkat Perguruan Tinggi di Indonesia

Kekerasan dengan atas nama penggemblengan mental mahasiswa pada proses pendidikan di Perguruan Tinggi merupakan hal yang tidak bisa dianggap biasa-biasa saja. Institusi pendidikan yang menerapkan violence act (aksi kekerasan) atas dasar pembinaan terhadap para mahasiswa ataupun calon mahasiswa-mahasiswinya hingga mengakibatkan korban jiwa merupakan aksi yang tidak bisa ditolerir. Secara eksplisit model pendidikan tersebut dapat dikatagorikan pada level penghilangan hak asasi manusia.  

Dengan maraknya berbagai tindakan kekerasan yang terjadi dalam proses pendidikan di tingkat Perguruan Tinggi telah mengakibatkan munculnya image negatif terhadap kwalitas dunia pendidikan nasional. Sistem pendidikan yang diterapkan di Indonesia pada awalnya diharapkan untuk membentuk mahasiswa yang bertaqwa kepada Tuhan YME, memiliki sikap toleransi serta integrasi yang tinggi, bertanggung jawab, disiplin, mampu mengambil keputusan yang baik, kreatif, dan memiliki sikap untuk berkompetisi secara sehat dengan negara lain. Namun ternyata pada pola prosesnya tidak teradaptasikan.  

Pada hakekatnya pendidikan nasional bertujuan untuk mengembangkan manusia terutama dalam bidang kepribadian dan abiliti sehingga manusia tersebut berguna dalam kehidupan bermasyarakat. Alwasilah (1997), menegaskan bahwa “dipilihnya kebermaknaan ‘meaning fullness’ sebagai pendekatan yang lekat pada setiap aspek kurikulum pendidikan, yaitu: (1) tujuan yang akan dicapai, (2) pengalaman edukasional untuk mencapai tujuan itu, (3) organisasi pengalaman edukasional itu, dan (4) langkah-langkah evaluasi untuk menentukan kriteria keberhasilan yang dimotivasi oleh kebermaknaan yang berperan sebagai motor penggerak. 

Pendidikan merupakan wahana yang paling strategis karena pendidikan diharapkan bisa mempersiapkan generasi muda yang sadar terhadap kekuatan Iptek dan memiliki solidaritas etis sebagai gambaran manusia

Indonesia

masa depan yaitu manusia yang berkualitas sebagai manifestasi manusia produktif.” Mereka memiliki kemampuan yang berdikari tanpa harus selalu bergantung kepada infrastruktur atau lapangan kerja yang tersedia dalam menghasilkan sesuatu sebagai produk yang berguna untuk dirinya maupun masyarakat yang diperoleh dari proses pendidikan yang pernah diterimanya. 

Model pendidikan pada tingkat ‘undergraduate students’ (universitas/institut) akan mengalami kesulitan bila pengembangan sumber daya manusianya masih diselipi violence act maupun soft violence yang diimplementasi pada proses pembinaan mental mahasiswa baru maupun mahasiswa yang sedang menjalani studi. hal tersebut dapat dikatakan useless bila hanya membentuk kapabilitas mental seorang mahasiswa, dan pada akhirnya hal tersebut tidak akan bisa membuat mahasiswa mampu berkompetisi dengan mahasiswa-mahasiswa asing dari kampus ‘universitas’ yang telah dikemukakan diatas tadi. Saya kira lebih baik aktivitas mahasiswa yang bertendensi kekerasan tersebut lebih baik dihapus, diganti kontennya dengan  kegiatan diarahkan kepada hal-hal yang ‘logic scientific’ (ilmiah dan masuk akal), bila aktivitas kekerasan terus dilakukan (walau sudah membudaya), hal ini akan akan memungkinkan soft violance terjadi secara simultan. 

Menurut Kneller (1984), Suatu perilaku muncul bila disebabkan karena banyak faktor, termasuk orang-orang yang ada disekitarnya dengan perilakunya. Jika seorang mahasiswa pada awalnya bersikap baik dan sopan, dia akan secara ekstrim berubah menjadi bengis ‘beringas’ bila lingkungan tempat mahasiswa tersebut memiliki kekuatan mempengaruhinya. Tindakan kekerasan akan menjadi kasus balas dendam yang dilakukan senior kepada juniornya. Pengalaman pernah mengalami kekerasan dari para seniornya akan membentuk mental juniornya menumpahkan ledakan amarah pembalasan dendamnya  kepada juniornya di kemudian hari.. 

Perguruan tinggi harus meningkatkan kualitas pengajaran dan pendidikannya, mahasiswa diberi lahan untuk melakukan diskusi ilmiah, debat antar mahasiswa baik mahasiswa baru maupun mahasiswa semester atas untuk mengembangkan daya nalar sebagai replacement dari kegiatan dan proses pendidikan yang berbau kekerasan sebagai sisa-sisa

gaya

pendidikan colonial. Brown (1994) mengatakan, “the principal of strategy investment was introduced. Here, we probe its implication for your teaching methodology in the classroom, namely, how came your language classroom technique encourage, build and sustain effective language learning strategies in your students”. Dengan melalui acara diskusi serta debat justru akan mendorong mahasiswa menjadi insan-insan bangsa yang kritis, dengan demikian hak asasi manusia yang masih terampas untuk pengembangan nalar mahasiswa

Indonesia

mulai dihargai keberadaannya.

Kompetisi adu intelektual di kalangan mahasiswa melalui diskusi dan debat akan merangsang kecerdasan emosional mahasiswa (EQ), selain kecerdasan intelektualnya (IQ). Kepedulian sosial mahasiswa akan meningkat dan mengembangkan rasa solidaritas yang positip antar mereka. Energi positif tersebut akan bertransformasi menjadi tujuh kekuatan gerak, yaitu:

  1. Perilaku jujur
  2. Tanggung jawab
  3. Disiplin
  4. Kerja sama
  5. Visioner
  6. Peduli lingkungan lewat sumbangsih      ide/gagasan                          (Terbit di Majalah Mizan)

CURHAT Saya untuk Teman Saya

Saya berdoa untuk kebahagian teman saya, semoga apa yang dia curhatkan hari ini tanggal 22 agustus 2008 tepatnya jam 22. 50 malam ini.  Mungkin itu jawaban Tuhan melalui Shalat Istikhoroh paman Kiki yang melihat perwujudan manifestasi calon pasangan teman saya itu.  Wahai Temanku yang bijaksana, berbahagialan engkau memiliki pendamping yang sempurna dengan keluarga yang sangat mendukung dengan perjalanan cinta kalian nanti....    

Tinjauan Aplikasi Budaya Literasi pada Masyarakat Praliterasi

Bahasa merupakan bagian dari komunikasi yang terpenting. Tanpa bahasa kita tidak mungkin bisa bertukar informasi. Menurut Barker (1984), bahasa memiliki tiga fungsi: penamaan, interaksi, dan transmisi informasi. Melalui bahasa, beragam macam informasi dapat disampaikan kepada orang lain.  Terdapat empat keterampilan berbahasa, yaitu: membaca (reading), menulis (writing), berbicara (speaking) dan menyimak (listening). Keempat keterampilan itu memiliki kepekatan kognitif yang tidak sama, seperti perbandingan antara kemampuan membaca dan kemampuan menulis. Kemampuan membaca dan menulis (literasi) lebih menyita konsentrasi kognitif dan intelekif yang berfungsi sebagai latihan untuk meningkatkan kekritisan serta daya nalar, bila dibandingkan dengan keterampilan berbicara dan menyimak.

Transformasi Ilmu Melalui Tulisan

Sistem budaya praliterasi (lisan) dan pendidikan yang kurang menanamkan kemampuan berpikir kritis/menggunakan daya nalar inilah merupakan satu dari sekian hal penghambat kemajuan pengetahuan dan pendidikan pada umumnya. Bila dihitung setiap tahun, perguruan-perguruan tinggi baik negeri maupun swasta telah mencetak berpuluh-puluh juta sarjana dan pasca sarjana. Sayangnya, mayoritas intelektual tersebut kurang suka menulis. Sebagai bahan komparasi saja, Amerika Serikat menerbitkan 100.000 judul, Australia 7.500, Inggris 61.00, Jepang 44.000, dan Belanda 13.000 judul buku per tahun. Sedangkan Indonesia hanya  menerbitkan2.000 judul per tahun (Alwasilah, Media Indonesia, 20-06-1992). Jelaslah bahwa masyarakat ilmuwan kita masih jauh tertinggal dari masyarakat ilmuwan negara maju.

Pembuktikan ini bisa saja dijadikan alasan tidak berkembangnya daya nalar masyarakat, karena banyak ilmuwan memang suka membaca tetapi belum banyak yang suka menulis. Disinilah peran Perguruan Tinggi agar membekali para alumninya dengan keterampilan menulis. Sehingga transformasi ilmu pun berkembang dikalangan masyarakat luas.

Praliterasi Vs Posliterasi

Masyarakat Indonesia menjadi semakin tidak purposif lewat penggunaan teknologi-teknologi canggih tersebut. Misalnya, handphone digunakan untuk media ngobrol bareng artis-artis atau internet yang digunakan beberapa mahasiswa  sebatas ber-chatting ria. Akhirnya kita diperbudak oleh Iptek, bukan malah berusaha untuk mengendalikan dan memanfaatkan teknologi tersebut.  Masyarakat Indoensai adalah masyarakat yang mayoritas penduduknya berbudaya praliterasi dimana budaya lisan lebih mendominasi. Dengan mental praliterasi yang cenderung reaktif dan spontan, tiba-tiba diinvasi oleh budaya posliterasi seperti tekhnologi internet, handphone, televisi dan sebagainya. Akulturasi praliterasi dan posliterasi dalam budaya ini.

Terdapat sebuah film barat dimana sepasang suami istri tengah bersiap tidur. Mereka membaca dulu beberapa halaman buku, diterangi lampu baca di samping ranjangnya. Terkadang mereka menggunakan kaca mata baca. Setelah cukup mengantuk, mereka menaruh buku di meja kecil di sampingnya dan mematikan lampu baca. (Adlin, Pikiran Rakyat, 10-02-2007). Book (1980) menamakannya budaya literasi (baca-tulis) masyarakat barat. Sehingga ada yang mengatakan bahwa budaya literasi barat dan praliterasi itu telah  menciptakan kesenjangan antara negara maju dan negara berkembang.

 

Budaya Literasi Masyarakat Indonesia

Kebiasaan baca-tulis sebenarnya persoalan budaya. Dalam aplikasi literasi, seyogyanya harus ditumbuhkan kegemaran membaca pada masyarakat. Bila membaca telah menjadi kebutuhan batin, masyarakat akan selalu bernafsu untuk membaca media apa saja. Lalu dengan sendirinya mereka akan tergerak dan terangsang untuk menuangkan informasi/ilmunya ke dalam tulisan.

Dalam Writing, Research, Theory and Application, Kraschen mengadakan obsevasi mengenai korelasi antara membaca dan menulis. Dari penelitian tersebut, terbukti bahwa penulis yang baik adalah mereka yang gemar membaca dimasa kecilnya, suka membaca koran, dan memiliki banyak buku di rumahnya. Terbukti pula bahwa penulis yang baik adalah mereka yang menulis di luar kegiatan akademik, sering menulis diari/jurnal, mengikuti kursus menulis dan memiliki sikap positif terhadap menulis. Maka dari itu, keterampilan menulis sebenarnya dapat dibina dan dikembangkan.

Ketika menulis, penulis diharuskan menguasai kode etik linguistic. Menulis merupakan permainan logika, karena penulis dipaksa berpikir lebih kritis dibanding saat membaca. Maka, menulis merupakan alat untuk mempertajam serta memperhalus pikiran. Semakin dalam dan kritis suatu pemikiran, akan semakin berkualitaslah hasil tulisan tersebut. Ini semua terlahir atas proses internaslisasi kedalaman ilmu dan kekritisan penulis. Namun kompetensi menulis tentunya hanya tumbuh dari kegemaran membaca. Sedangkan latihan menulis secara simultan, akan menumbuhkan performansi tulisan.

Sebelum menulis, penulis harus yakin dengan poin-poin pikiran yang akan ditulis. Harus ada interaksi antara bahasa dan poi-poin pemikiran. Poin itu tentunya tidak datang begitu saja. Penulis harus mencari informasi sebanyak mungkin dengan membaca. Tanpa hobi membaca, seseorang tidak akan mungkin bisa menjadi penulis. Hal itu dikarenakan membaca melibatkan memori yang menyimpan informasi dan membentuk imej mengenai objek bacaan tersebut.
Kembali lagi kepada budaya praliterasi bangsa Indonesia, media yang lebih  media yang lebih berkembang pada masyarakat Indonesia adalah sastra dan tradisi lisan, bukanlah sastra tulis. Contoh kecilnya, pada budaya bahasa sunda terdapat sisindiran dan wayang. Sedangkan budaya Bahasa Inggris merupakan budaya baca-tulis.

Ditinjau dari paradigma kultur ini, memang tidaklah mudah untuk menanamkan budaya gemar membaca pada masyarakat praliterasi. Menstimulus masyarakat untuk hobi membaca saja susah, apalagi menumbuhkan hobi menulis. Contoh konkritnya, jarang rumah-rumah di Indonesaia yang mempertimbangkan untuk membuat perpusatakan pribadi atau rak-rak buku di sudut-sudut rumahnya. Mereka lebih cenderung memikirkan untuk menata ruang televisi yang besar dan nyaman bagi keluarga. Dampaknya, minat baca pun menjadi minim sekali. 

Penutup

Merupakan hal yang cukup sulit bila kita memaksakan/mencekokan budaya literasi kepada masyarakat, karena bagaimanapun praliterasi telah menjadi akar budaya masyarakat Indonesia.           

Namun, praliterasi itupun mempunyai keunggulan tersendiri yaitu sarana untuk menyatakan pikiran, perasaan, dan maksud seseorang secara verbal. Begitupun literasi yang dapat meningkatkan tingkat logika dan paradigma berpikir masyarakat di balik wacana-wacana teks ilmiah.  

Mengenali potensi suatu masyarakat, lalu berusaha mengembangkan potensi tersebut bersama-sama sehingga budaya literasi dan praliterasi menjadi seimbang merupakan jalan keluar dari dilematis budaya ini. Sedangkan budaya posliterasi harus disikapi dengan daya nalar yang tinggi untuk memfilter kebutuhan informasi yang bermanfaat bagi kemajuan bangsa indonesia. (Diterbitkan di Majalah Mizan).

.

Nikah dan Seks??!!

     Teman saya yang sudah menikah tiba-tiba bercerita tentang honey moon mereka yang sangat berkesan di Kota Garut. Ketika itu kami semua tengah berkumpul di pernikahan seorang teman juga di Lobi Restoran Viena Resto&Lounge. Pada awalnya kami hanya tertawa terkekeh-terkekeh mendengar cerita yang (jujur saja, cukup hot hehehe) tanpa ada yang menyanggah cerita bulan madu mereka (jelas saja, tokh kami semua yang mendengarkan adalah para jomblowati keren yang belum punya pengalaman seperti itu). Lalu, teman saya yang paling cerewet nyeletuk sambil iseng bertanya, “Kalian bisa berapa ronde setiap malam?”. Spontan semua orang yang ada di lobi menyuraki dia. Herannya, teman saya menjawab tanpa rasa enggan, “Ya sampai puas. Sampai pagi juga bisa, gak keitung deh. Yang penting, kalian kudu pada nikah dulu. Kayak gue, kan dah halal”.                                                                                      

     Saya jadi geli juga mendengarnya, tentunya bukan karena berimajinasi tentang ‘ehem ehem’, melainkan keterbukaan jawaban teman saya itu. Saya malahan salut karena dia mau berbagi cerita tentang kesan-kesan hidup setelah menikah. Hanya saja, saya juga masih merasa puzzled, seperti apa sih rasanya ciuman, pelukan, sampai melakukan intercourse dengan pasangan yang tentunya harus sudah halal 100%.

     Astagfirulah, terlalu liar imajinasinya.. Oke, lupakan saja sejenak untuk kembali ke kasus ini. Saya langsung teringat pada sebuah buku berjudul “Psikologi Perkembangan” karya Monks. Dia bilang ada tiga macam moral seksualitas beserta alasan-alasan melakukan hubungan seks antara suami-istri. Yang pertama adalah periode sebelum perang dunia kedua yang berpandangan melakukan hubungan seks untuk bereproduksi/memperoleh keturunan dalam ikatan perkawinan. Berlanjut lagi di tahun 60-an dengan lahirnya alat-alat kontrasepsi yang perlahan-lahan melepaskan makna seks untuk memperoleh keturunan. Nah, periode terakhir sampai sekarang ini, alasannya melakukan intercourse berujung pada prestasi untuk mendapatkan kenikmatan seks. Hmmmm apa berarti kenikamatan seks itu lebih dipentingan? Bila memang benar, berarti seks itu hampir disamakan dengan barang dagangan saja dong. Namun teori Monks ini tentunya tidak digeneralisasikan bahwa semua pasutri jaman sekarang memiliki alasan seperti itu. Bisa saja teori tersbut digugurkan. Hanya, andai saya menyaksikan realita yang terjadi di lapangan sekarang, sulit untuk menepis anggapan Monks tentang ketiga periodisasi moral seksualitas setiap jaman.

     Walau bagaimanapun, saya yakin bahwa sikap dan pandangan tentang hal tersebut, bergantung pada pandangan moral agama, norma sosial budaya masing-masing pasangan suami istri. Sedangkan untuk saya pribadi, NO SEX BEFORE MARRIED.. YES SEX AFTER MARRIED TO GET CUTE BABBY..hehehehe.. Insyaallah..

Saya Cinta Indonesia, bagaimana dengan Kamu?

      Saya teringat cerita kakek tentang perjuangannya melawan penjajahan Jepang. Ketika itu beliau bergelar Kapten yang pernah ditangkap Jepang dan disekap di Arhanut. Semasa dipenjara, kakek saya (Alm Kapten Soma Priatna) dipaksa membocorkan rahasia tentang suatu pesan rahasia. Tapi kakek saya ajeg untuk tidak mengatakan rahasia itu, sampai beliau harus kehilangan dua kuku di jarinya karena berani bungkam. Pada masa itu, pemerintah militer Jepang memang ingin menjadikan Indonesia seperti Jepang (japanisasi). Dulu jepang sengaja membentuk gerakan-gerakan seperti Gerakan Tiga A,Jawa Hokokai dll (saya lupa lagi) yang intinya bermaksud untuk mematikan semangan nasionalisme Indonesia.   

      Nenek saya yang alhamdulilah masih hidup (Uwin Winangsih Priatna) bercerita tentang kenangannya bertemu kakek. Ketika itu Jepang kalah berperang, dan kehilangan banyak tentara di kubu jepang, hingga akhirnya dibentuklah seinendan, keibondan, heiho. Kakek saya ketika masih muda pernah menjadi anggota heiho dan bertemulah dengan nenek saya secara tak sengaja. Memang mungkin karena sudah berjodoh, akhirnya mereka saling bersurat-surat. Nenek memang beruntung karena berasal dari keluarga ningrat, sehingga tidak masuk fujinkai. Kakek pun berhasil keluar dari heiho setelahnya atas bantuan teman seperjuangan untuk melawan tentara Jepang. Dan bergabung bersama tentara Indonesia. Kehidupan dulu itu penuh dengan teror. Bom dan senjata dimana-mana. Malah rumah nenek saya dahulunya sengaja dibuat bunker yang fungsinya sebagai pelindung dari serangan bom yang mendadak. Tidk ada kebebasan seperti sekarang ini.

     Ya, kebebasan yang sangat reformatif. Saya bisa bebas berjalan-jalan ke warung tanpa takut adanya peluru nyasar atau melenggang ke pasar/kampus/mall/toko buku tanpa rasa was-was diculik tentara sekutu. Atau bebas mengemukakan pendapat ekstrem tanpa takut disodori moncong senjata. Yang pasti, bila saya mengenang kembali cerita-cerita nyata yang dialami kedua kakek-nenek saya, semalam pun tak akan cukup waktunya. Perjalanan negara Indonesia untuk meraih kemerdekaan yang diproklamasikan oleh founding father Bapak Soekarno, merupakan keringat dan darah suci pahlawan-pahlawan indonesia dan segenap warga Indonesa yang ikut berjuang melawan penjajah. Fisik, batin, harta, tekad, semangat, niat mereka begitu murni untuk merebut kembali Indonesia dari tangan para penjajah. Begitu mulia pengorbanan mereka sehingga membuat saya semakin cinta akan indonesia. Tentunya membuat saya bersyukur juga menjadi negara yang merdeka untuk melakukan segala aktifitas sehari-hari. “Kemerdekaan bagi seluruh bangsa” adalah suatu hal yang benar-banar harus disyukuri pada Tuhan YME. Hari ini tanggal 17 agustus 2008, saya dan masyarakat di sekitar RT saya, memperingati kembali hari ulang tahun negara Indonesia yang ke 63. Semoga negara Indonesia tetap jaya karena penjajahan secara halus memang masih gencar dilakukan lewat penjajahan budaya westernisasi.         

     Ya Allah, semoga kakek saya sebagai salah satu dari beratus-ratus juta pahlawan yang dikenal dan pahlawan yang tidak dikenal, diterima amalan mulia ibadahnya oleh-Mu karena tanpa jasa mereka, nikmat merdeka tidak akan bisa saya hirup. Terima kasih Tuhan atas anugerah ini. Terima kasih kakek. Terima kasih para pahlawan yang telah mendahului, semoga Tuhan membalas jasa-jasa kalian. Hidup Indonesiaku..Hidup Negeriku.. Amin..

For My New Love.. But I Dont Know.. Siapa ya?

When the night goes down

I do look you smile in a shadow

That I know....

It’s a joy through my sadness

As if your soul and heart are singing at me

I’ll be at your side to weep the tears

And you hug me se gently till I asleep

Then I whisper, “Thank you very much for your love

For My Broken-Hearted

Many morning had gone

Followed by the gone days

Plenty of memories we spent together

To share tears and happiness that I thought a glorious thing

In my life

But suddenly, you leave me behind with tears

Alone!!!!

- Memorizing my Broken Hearted -

Kebenaran Hakiki Komunikasi Cinta Antar Pasangan

Adam dan Hawa, Trigger Komunikasi Interpersonal Pertama                            Sebetulnya, komunikasi interpersonal ini telah terjadi di Taman Firdaus tempat Adam dan Hawa tinggal sebelum dijatuhkan ke bumi. Allah SWT memilih Adam sebagai manusia pertama untuk mengadakan hubungan yang sangat intim dengan Hawa, manusia kedua yang Dia ciptakan sebagai mahluk yang dapat berkomunikasi. Adam berkomunikasi dengan Hawa secara interpersonal.Dalam keadaan yang demikian sempurna Iblis menawarkan hambatan komunikasi yang pertama dengan mengusahakan keraguan terhadap diri Adam. Iblis mempersuasi Hawa untuk mengajak Adam memakan buah Khuldi.  Adam bertanya pada Hawa tentang rayuannya atas larangan Allah untuk memakan buah Khuldi.   Sehingga pada akhirnya Adam terpedaya bujukan Hawa, yang merupakan suatu keberhasilan persuasif oleh Hawa terhadap Adam lewat komunikasi.                                                                 

         Ketika Adam dan Hawa jatuh ke bumi, maka komunikasi dengan Allah dan sesamanya retak. Sehingga sampai munculah pembunuhan pertama antara anak-anak Adam Hawa yaitu Habil dan Qabil.  Manusia sebagai mahluk berkomunikasi yang membutuhkan orang lain, mulai mengalami penderitaan karena hubungan yang ia butuhkan itu terputus karena hubungan sosialnya rusak. Dampak dari rusaknya tatanan sosial itu, manusia mulai menderita keterasingan.Itulah yang terjadi saat ini dengan semakin individualistiknya manusia karena mengejar kehidupan duniawi semata.  Padahal tanpa adanya manusia lain untuk membina komunikasi, dulangan amal-amal emas sebagai tiket masuk syurga akan sulit untuk diraih.                 

           Weaver (1984) berkata, agar komunikasi interpersonal yang dilakukan menghasilkan hubungan interpersonal yang efektif, seseorang perlu bersikap terbuka dengan menggantikan sikap dogmatis. Selain itu dengan memiliki sikap percaya, sikap mendukung, dan terbuka yang mendorong terhadap sesama/significant others akan menimbulkan sikap saling memahami, menghargai dan saling mengembangkan kualitas. Hubungan interpersonal perlu ditumbuhkan dan ditingkatkan dengan memperbaiki hubungan dan kerjasama antara pribadi.

Secara kontekstual, komunikasi interpersonal digambarkan sebagai suatu komunikasi antara dua individu atau sedikit individu, yang mana individu-individu tersebut secara fisik saling berinteraksi, saling memberikan umpan balik, dan menggunakan beberapa titik sensor pada tubuh. Akan tetapi, menggunakan definisi kontekstual saja tidak cukup untuk menggambarkan komunikasi interpersonal karena tiap-tiap hubungan yang dijalani individu berbeda satu dengan lainnya. Seseorang tidak mungkin memukul rata setiap jenis komunikasi antara dua individu atau sedikit individu. Komunikasi yang terjadi antara penjaga toko dengan konsumennya tentu saja berbeda dengan komunikasi antara dua orang yang sudah bersahabat baik, meskipun kedua bentuk komunikasi itu sama-sama merupakan jenis komunikasi antara dua individu.

Efektifitas dalam komunikasi interpersonal akan mendorong terjadinya hubungan yang positif terhadap rekan, keluarga, dan klien bisnis. Sedikit yang menyadari pentingnya masalah interaksi antar manusia karena sebagian besar menganggap bahwa masalah kepemimpinan dan presentasi publik jauh lebih penting daripada hubungan antarmanusia, padahal pintar dalam komunikasi interpersonal merupakan aset yang penting dalam hubungan bermasyarakat dan tiket masuk ke surga.

Banyak orang-orang menjadi sukses karena mereka memiliki hubungan yang sangat baik dengan orang lain. Mereka menanamkan identitas yang positif kepada orang lain sehingga mereka memiliki image yang baik di mata masyarakat. Dengan demikian, mereka memiliki kesempatan lebih untuk mendapatkan kepercayaan dari orang lain dibandingkan dengan mereka yang tidak memiliki kemampuan komunikasi interpersonal yang baik. Ada juga yang beranggapan bahwa, kemampuan komunikasi interpersonal adalah bakat yang jatuh dari langit yang dianugrahkan Tuhan untuk orang tertentu saja. Padahal, komunikasi interpersonal pun bisa dilatih layaknya kemampuan-kemampuan soft lainnya.                   

Dengan menguasai komunikasi interpersonal sebenarnya seseorang membuka wawasan diri untuk mulai memahami orang lain di luar diri seseorang sendiri dengan demikian seseorang dapat berinteraksi secara positif dengan orang lain. Informasi-informasi yang seseorang dapatkan tentang orang lain dapat memudahkan seseorang untuk memprediksi bagaimana pola pikir individu tersebut, bagaimana cara mereka menyikapi suatu permasalahan, bagaimana pendapat dan perasaan mereka terhadap sesuatu hal. Apabila seseorang memiliki informasi-informasi seperti di atas, maka seseorang akan lebih mudah dalam menghadapi individu tersebut dan dapat meminimalkan kemungkinan-kemungkinan terjadinya konflik antara seseorang dengan orang lain.

Menurut Devito (1997), terdapat cara-cara yang bisa digunakan sebagai panduan dalam membangun komunikasi interpersonal yang efektif, yaitu :

·         Menciptakan ketertarikan dan menangkap perhatian

Sudah menjadi sifat dasar manusia bahwa mereka lebih cenderung tertarik dengan dirinya sendiri ketimbang orang lain. Oleh karena itu, salah satu hal yang bisa seseorang lakukan agar orang lain menjadi tertarik dengan seseorang adalah dengan menumbuhkan ketertarikan seseorang terhadap orang tersebut. Dengan kata lain, berhentilah untuk membicarakan semua hal yang berkaitan dengan diri seseorang beserta tetek bengeknya, namun cobalah untuk lebih memberikan perhatian kepada lawan bicara seseorang. Ajaklah dia untuk mendiskusikan segala hal mengenai dirinya, seperti model pakaian yang ia sukai ataupun olahraga-olahraga yang ia gemari. Akan tetapi, dalam upaya menciptakan ketertarikan ini hendaknya seseorang juga memperhatikan hal-hal tertentu yang kira-kira tidak membuat lawan bicara seseorang merasa seperti diinvestigasi. 

·         Membangun rasa simpati

Maksudnya adalah bagaimana membangun suatu lingkungan komunikasi di mana lawan bicara seseorang merasa percaya diri saat berbicara dengan seseorang. Cara-caranya bisa dengan membuat suasana yang hangat saat berkomunikasi, menghilangkan suasana superior dan inferior, yakni bisa dengan kontak mata yang hangat dan bersahabat, menirukan bahasa tubuh lawan bicara, ataupun dengan menyebut-nyebut nama lawan bicara seseorang berulang-ulang untuk menunjukkan betapa seseorang menghormatinya.

·         Percaya diri

Percaya diri sangat penting dalam berkomunikasi. Saat seseorang memiliki kepercayaan diri, maka yang terjadi seseorang akan membangun image diri seseorang kepada orang lain, akan tetapi kurangnya kepercayaan diri membuat seseorang akan dipseseorangng sebagai seorang yang memiliki posisi yang lemah. Terkadang, kurang percaya diri membuat seseorang sendiri menjadi tidak nyaman dalam berkomunikasi, gugup, gemetaran, merasa setiap apa yang seseorang utarakan adalah hal-hal yang sama sekali tidak berguna, kekhawatiran mengenai pseseorangngan orang lain terhadap seseorang dan berjuta-juta pikiran negatif lainnya dapat membuat komunikasi berjalan buruk karena seseorang hanya sibuk berkutat dengan ketakutan seseorang sendiri. Sebaliknya, percaya diri saat berkomunikasi dapat menciptakan energi yang positif. Komunikasi menjadi lancar dan jelas bahkan seseorang dapat mempengaruhi lawan bicara hanya dnegan bermodalkan kepercayaan diri.

·         Mengaplikasikan kemampuan bertanya, mendengar dan diam

Ketiga hal penting itu adalah kemampuan bertanya, mendengarkan, dan diam. Sebagian besar komunikator efektif menggunakan ketiga skill ini.  Siapa bilang orang yang aktif bicara adalah seorang yang mengagumkan dalam komunikasi. Akan tetapi orang yang lebih banyak mendengar justru menjadi orang yang disenangi dalam komunikasi. Diam dan mendengar di sini bukan berarti seseorang mendengar secara pasif. Akan tetapi, seseorang berusaha untuk mendengar secara aktif, memberikan respon-respon positif terhadap topik yang disampaikankan orang lain sembari sekali-sekali menimpali dengan pertanyaan-pertanyaan relevan yang menunjukkan bahwa seseorang memperhatikan apa yang sedang dibicarakan. Bayangkan betapa menjengkelkannya bila harus berlama-lama bicara dengan seseorang yang terus menerus berceloteh ini itu  tanpa memberikan kesempatan kepada orang lain untuk bicara. Yang harus diperhatikan adalah seseorang tetap berusaha untuk membedakan antara pendiam dan diam aktif. Orang yang pendiam kadang juga menjengkelkan. Akan tetapi, bertanya, mendengarkan, dan diam di sini tidak menunjukkan bahwa seseorang adalah seorang yang pendiam, namun lebih kepada menempatkan diri untuk lebih banyak mencerna topik yang sedang dibicarakan.

·         Kejujuran dan empati

Menciptakan ketertarikan pada orang lain seperti    pada poin satu sebenarnya adalah bagaimana seseorang membuat suatu bentuk ketertarikan pada orang lain dengan sebenar-benarnya. Bukan dengan dibuat-buat ataupun pura-pura tertarik. Kejujuran disini maksudnya adalah jujur dalam tertarik pada orang lain. Hal ini sangat penting karena biasanya ketertarikan dan perhatian yang dibuat-dibuat justru mudah untuk dikenali.

·         Optimisme

Optimisme menekankan pada hal-hal positif yang didiskusikan dalam suatu komunikasi. Adakalanya dalam suatu komunikasi yang terjadi setiap harinya, ada banyak hal negatif yang dijadikan topik pembicaraan, seperti kesedihan, kekecewaan, dan kemarahan. Komunikator yang baik tentu akan berusaha untuk menggiring setiap pembicaraan ke arah yang positif. Dengan kata lain, komunikator yang baik dapat memberikan respon positif yang dapat membuat komunikasi tidak hanya melulu berkutat pada hal-hal yang negatif, suasana optimis pun dapat tercipta. Itulah yang membedakan komunikator yang baik dengan orang yang hanya sekedar pseseorangi bicara. Komunikasi interpersonal bukan sekedar kemampuan untuk berorasi dan berdiskusi, namun lebih dari itu semua, komunikasi interpersonal membutuhkan empati dan simpati yang membuat orang lain merasa nyaman dan dihargai.   - Lucy -